Sabtu, 29 Maret 2008

Laut Nusantara

LAUT NUSANTARA

Jimi Harries N*


Bumi ini terbungkus oleh air, air dilaut, di darat dan air di udara. Air selalu berubah juga mengalir. Walupun rumus kimianya sangat sederhana H2O. Air ini menentukan kehidupan semua jenis organisme. Air inilah yang menjadi kekayaan utama bumi kita. Jika air rusak maka kehidupan kita juga rusak. Termasuk didalammnya adalah laut yang memiliki sejuta pesona dan potensi untuk dimanfaatkan.
Berbicara tentang laut, Indonesia adalah negara kepulauan dengan lautan yang amat luas. Pulau merupakan bagian dari laut. Nusantara menggambarkan banyaknya gugusan pulau pulau yang diselimuti laut. lebih dari 60% wilayah negeri ini merupakan lautan. Dengan ditaburi 17.506 pulau yang terbentang dari Sabang hingga Marauke bagaikan Zamrud Khatulistiwa. Panjang pantai yang membentang 81.000 Km dan luas laut yang mencapai 5,8 Km2. Demikian Indonesia sangat layak menyandang gelar negara maritim. Laut Indonesia dikenal memiliki kenakeragaman hayati laut yang sanagt tinggi. Didasar lautnya juga terakumulasi sumberdaya mineral, minyak dan gas bumi. Sungguh kaya laut kita, sehingga kita jangan terbuai oleh kata ”kaya” yang ada bagi laut kita.
Berkaca dari hal diatas, mengapa kita masih asing sengan laut padahal laut adalah rumah kita. Saya tidak tau persis apa penyebabnya.Ini kelihatan jelas saat setelah Portugis menaklukan Malaka pada tahun 1511, kemudian Belanda datang pada 1602, secara cepat laut ini dikuasai oleh bangsa bangsa eropa. Bangsa Nusantara akhirnya terdesak kehalaman belakang rumah kita :kepedalaman-pedalaman. Diukur dari sejak prnaklukan Malaka oleh Portugis, kita sudah hampir 500 tahun dibuat asing dari rumah Nusantara kita ini. suatu pergeseran kehidupan yang relatig permanen.
Keterasingan tersebut hingga sekarang belum juga hilang. bahkan, kita rasanya makin asing dengan laut kita. Laut bukan lagi menjadi sumber kehidupan bagi kita. Pihak asinglah yang lebih mendapatkan manfaat dari kekayaan laut kita. beberapa contoh kasus menunjukkan hal tersebut. Contoh penyelewengan berbagai dokumen izin kapal penangkapan ikan yang digunakan oleh pihak asing untuk megeruk keakayaan laut kita. Ditambah lagi banyak terjadi illegal fishing oleh kapal asing di laut kita dan masih banyak lagi. hal ini salah satunya disebabkan oleh Armada perikanan kita yang sangat lemah, demikian pula dengan armada pelayaran kita.
Dapatkah kita mencari jalan keluar dari perangkap sejarah ini. Tidak riskankah kita sebagai negara bahari tetapi kehidupan kita terpisah dari rumah utama kita. Memang secara biologis kita bukanlah makhluk air. tetapi secara fungsional mestinya laut menjadi sumber utama kehidupan kita. Oleh karena itu kita perlu dengan segala daya meningkatkan kemampuan kita diserba dunia kelautan ini.
Seperti biasanya, berbicara itu mudah sedangkan melaksanaknnya sangatlah sulit. namun bukanlah dunia kita itu adalah dunia kata-kata? Kodifikasi ilmu hanya dapat dilakukan melalui dunia kata. kata-kata yang diangkat dari dunia empiris membawa pesan pengalaman untuk menjadi bahan pembelajaran dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Dunia sastra juga dunia kata-kata, yang bisa membuat kita mengubah dunia. Dunia impian juga memikat perhatian, apakah kita dapat mewujudkan impian itu. Sudah berapa kaya ilmu sastra dan impian kita tentang laut Nusantara?


Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, kota-kota, desa-desa dan seluruh isi pulau-pulau di Nusantara merupakan bagian dari laut. Semua itu merupakan halaman belakang rumah kita, yang menambah indah pesona nusantra. kedaulatan kita ada dilaut. Oleh itu, penulis harapkan dari tulisan ini dapat menggugah kita semua. kita harus peduli dengan laut kita. jagangan biarkan laut hanya menjadi pajangan. Kita jangan terjebak dalam kenyaman diri bahwa kita berada pada suatu negara yang kaya raya dengan sumber alam berlimpah. Apalah arti semua itu jika kita tidak mampu memanfatakan dan menjaga apa yang kita miliki. Kita tak punya visi jangka panjang, yang ada hanyalah pandangan jangka pendek. itupun bukan untuk kepentingan bangsa, tetapi kepentingan perorangan atau golongan. Sejarah harus kembali : Jalesveva Jayamahe!

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Untan

Rabu, 19 Maret 2008

pendidikan

PENDIDIKAN MODERN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Jimi Harries N*

Awal dari milenium baru dan reformasi menjanjikan harapan untuk mempercepat perkembangan sektor pendidikan di Indonesia. Kunci utama yang memicu akan timbulnya harapan baru tersebut berjalan kearah desentralisasi. manajemen pemberdayaan berbasis sekolah, serta masyarakat untuk mempengaruhi hasil (outcomes) sekolah, serta tujuan dari semua sektor pendidikan.Dimasa lalu telah dibentuk sistem komunikasi yang efisien dan efektif untuk menyebarkan informasi ke berbagai semua sektor di kalangan pendidikan. Desentralisasi pendidikan akan membutuhkan paradigma dan peran baru untuk administrasi pendidikan. Komponen utama dalam peran baru ini yaitu meliputi ; monitoring yang efisien, pengidentifikasian kebutuhan dan menempatkan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain untuk menghadapi kebutuhannya.

Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia selalu berkaitan dengan bidang pendidikan. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah sumber daya yang dibentuk oleh pendidikan seseorang baik di tingkat Formal maupun Informal. Oleh karena itu, seiring dengan perubahan lingkungan diluar dunia pendidikan, mulai lingkungan sosial, ekonomi, teknologi, sampai politik mengharuskan dunia pendidikan di Kalimantan Barat memikirkan kembali bagaimana perubahan tersebut mempengaruhinya sebagai sebuah institusi sosial dan bagaimana harus berinteraksi dengan perubahan tersebut. Salah satu perubahan lingkungan yang sangat mempengaruhi dunia pendidikan adalah hadirnya teknologi informasi (TI). TI telah menghadirkan media baru dalam penyebaran informasi, yaitu media digital. Informasi yang tidak lagi disusun atas atom-atom tetapi dalam bit-bit (Negroponte, 1998) telah mempercepat dan mempermudah proses penyebarannya. Media ini pun telah mengubah pola pikir manusia yang merupakan respon terhadap kemasan informasi. Contoh perubahan pola pikir tersebut adalah lahirnya e-mail yang mengubah cara berkirim surat, e-business atau e-commerce yang telah mengubah cara berbisnis dengan segala turunannya, termasuk e-cash atau e-money. E-government telah membuka babak baru pengelolaan pemerintahan dan mekanisme hubungan antara pemerintah, dunia bisnis, dan masyarakat. E-learning menawarkan cakrawala baru proses belajar-mengajar. Perubahan perubahan tersebut terus berlangsung dan dalam beberapa bidang sudah mulai mapan, terutama di negara-negara maju.

Secara makro ada keterikatan antara pendidikan dengan penggunaan teknologi informasi. dalam hubungan ini pendidikan dipandang sebagai alat vital untuk memajukan suatu bangsa menjadi modern serta mempunyai ketangguhan. Dalam pandangan ini pendidikan pun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengadopsian teknologi informasi yang sekarang telah berkembang dengan pesatnya. Dari golongan keatas hingga menengah kebawah pun tak luput dari TI.. Perbedaan ini semakin lengkap dengan statistik dari Badan Pusat Statistik bahwa untuk Kalimantan Barat belum banyak sekolah yang memiliki fasilitas Komputer, jaringan internet, bahkan hanya baru 30 % sekolah maupun perguruan tinggi yang memiliki akses ini.

Penggunaan Teknologi informasi untuk penyelenggaraan pendidikan khusunya di Kalimantan Barat harus menjadi perhatian serius, bagi setiap insan pendidikan yang ada di Kalimantan Barat. Penggunaan teknologi Informasi ini sangat penting karena mempercepat akses terhadap informasi pendidikan baik didalam maupun diluar. Selain itu juga terdidik dan pendidik memiliki wawasan yang luas tentang apa yang akan maupun apa yang telah dipelajari di bangku pendidikan. Dengan akses teknologi informasi dan komunikasi akan mengangkat citra pendidikan di Kalimantan Barat kerah yang lebih maju. Dengan kemajuan pendidikan disuatu daerah maka akan mendukung peningkatan produktifitas kerjanya.

Data Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan bahwa sebanyak 90% SMU dan 95%SMK telah memiliki komputer. Namun demikian, kurang dari 25% SMU dan 10% SMKyang telah terhubungan dengan Internet (Mohandas, 2003). Di tingkat perguruan tinggi, data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – dalam Pannen (2005) – menunjukkan bahwa kesadaran dalam pemanfaatan TI dalam proses pembelajaran masih sangat rendah. Analisis terhadap proposal teaching grant, baru 29,69% yang memanfatkan mediaberbasis teknologi komputer. Ketersedian media berbasis teknologi informasi juga masih terbatas. Hanya 15,54% perguruan tinggi negeri (PTN) dan 16,09% perguruan tinggiswasta (PTS) yang memiliki ketersediaan media berbasis teknologi informasi. Sekitar16,65% mahasiswa dan 14,59% dosen yang mempunyai akses terhadap teknolog iinformasi. Hasil survei yang melihat pemanfaatan TI pada tahun 2004 menunjukkan bahwa baru 17,01% PTN, 15,44% PTS, 9,65% dosen, dan 16,17% mahasiswa yang memanfaatkan TI dengan baik. Secara keseluruhan statistik ini menunjukkan bahwa adopsi TI dalam dunia pendidikan di Indonesia masih rendah termasuk Kalimantan Barat.Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan (a) bagaimana seharusnya kita memandang TI, termasuk potensi apa yang ditawarkanoleh TI; dan (b) bagaimana peran TI dalam modernisasi/reformasi pendidikan

Yang perlu diperhatikan sejak awal adalah bahwa penggunaan TI tidak sama dengan otomatisasi. TI tidak hanya memecahkan masalah dengan menggantikan pekerjaan yang selama ini dilakukan dengan manual menjadi berbantuan teknologi., maka pemanfaatan TI, menurut Hammer dan Champy (1993),tidak akan membawa perubahan radikal. Cara berpikir deduktif (deductive thinking) seperti ini tidak banyak memunculkan perubahan yang radikal terkait dengan pemanfaatan TI dibandingkan jika berpikir secara induktif (inductive thinking). Orang yang berpikir secara deduktif, pertama kali mencari masalah yang akan dipecahkan dan kemudian mengevaluasi sejumlah alternatif solusi yang akan digunakan. Jika TI ingin dioptimalkan pemanfaatannya dalam organisasi maka manajer/pemimpin harus berpikir induktif. Potensi TI harus dikenali dengan baik terlebih dahulu, kemudian mencari masalah yang mungkin dipecahkan. Masalah ini mungkin bahkan tidak dikenali sebelumnya atau tidak dianggap sebagai masalah.Pertanyaan yang harus dimunculkan bukannya, “Bagaimana kita dapat menggunakan kemampuan TI untuk meningkatkan apa yang telah kita kerjakan?”, tetapi “Bagaimana kita dapat menggunakan TI untuk mengerjakan apa yang belum kita kerjakan?.” Pertanyaan yang pertama lebih terkait dengan otomatisasi, yang juga dapat meningkatkan efisiensi, namun tidak sebaik yang dihasilkan oleh rekayasa-ulang (reengineering) berbantuan TI.

Perubahan tidak selalu menjadikan sesuatu lebih baik,tetapi untuk menjadi lebih baik, sesuatu harus berubah. Menurut Resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang terkait dengan modernisasi pendidikan: (1) bagaimana kita belajar (how people learn); (2) apa yang kitapelajari (what people learn); dan (3) kapan dan dimana kita belajar (where and whenpeople learn). Dengan mencermati jawaban atas ketiga pertanyaan ini, dan potensi TI yang bisa dimanfaatkan seperti telah diuraikan sebelumnya, maka peran TI dalam moderninasi pendidikan di Kalimantan Barat dapat dirumuskan..

Pertanyaan pertama, bagaimana kita belajar, terkait dengan metode atau model pembelajaran. Cara berinteraksi antara guru dengan siswa sangat menentukan model pembelajaran. Terkait dengan ini, menurut Pannen (2005), saat ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung kepada guru lagi (instructor dependent) tetapi lebih banyak terpusat kepada siswa (student-centered learning atau instructor independent). Guru juga tidak lagi dijadikan satu satunya rujukan semua pengetahuan tetapi lebih sebagai fasilitator atau konsultan (Resnick, 2002)..

Intervensi yang bisa dilakukan TI dalam model pembelajaran ini sangat jelas. Hadirnya e-learning dengan semua variasi tingkatannya telah memfasilitasi perubahan ini. Secara umum, e-learning dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang disampaikan melalui semua media elektronik termasuk, Internet, intranet, extranet, satelit, audio/video tape, TV interaktif, dan CD ROM (Govindasamy, 2002). Menurut Kirkpatrick (2001), e-learning telah mendorong demokratisasi pengajaran dan proses pembelajaran dengan memberikan kendali yang lebih besar dalam pembelajaran kepada siswa. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional seperti termaktub dalam Pasal 4 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”.

Dalam era global seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak ‘gagap’ teknologi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju.

Informasi sudah merupakan ‘komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam dunia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju pada era masyarakat informasi (information age) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Oleh karena itu melalui tulisan ini penulis mengajak kita semua untuk tidak alergi dengan teknologi informasi. Dengan teknologi informasi bersama kita majukan pendidikan.

Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan

Aktif di HMJ HIMASEP Faperta Untan

Minggu, 16 Maret 2008

Dilema masa depan pertanian


DILEMA MASA DEPAN PERTANIAN


Harga minyak bumi (BBM) pada tahun 2008 relatif sangat tinggi menyentuh US$ 103 per barel. Ini ditambah lagi gejolak di Timur tengah yang terus memanas. berbagai ketegangan politik diberbagai negara, serta cadangan BBM yang juga semakin menipis. Harga BBM yang tionggi sepertinya harus kita terima sebagai suatu kenyataan. Untuk mensiasatinya pemerintah harus merespon dengan kreatif tanpa menimbulkan masalah baru pada masa yang akan datang.
Gencarnya peningkatan produksi minyak berbahan baku produk pertanian atau nabati (Biofuel) dinilai merupakan salah satu respon yang bijaksana. Disamping bersifat renewable, strategi tersebut mempunyai berbagai dampak positif. seperti ramah lingkungan, berbahan baku sumber domestik, membuka lapangn kerja baru dipedesaan sampai argumen ketahan energi untuk negara. Sejalan dengan kecendrungan ini, Tidak salah jika Pemerintah Indoensia secara gencar merencanakan berbagai program bertahap guna meningkatkan produksi biofuel dengan bahan baku CPO, tebu dan Minyak jarak.
Strategi ini sudah merupakan strategi global, bahakan sudah dimulai tahun 1970an. Brazil dan Amerika serikat merupakan contoh negara yang memplopori pengembangan biofuel untuk merespon krisis tersebut. Ketika sekarang miyak bumi kembali melambung, semua negara seperti disadarkan untuk kembali mengembangkan biofuel. bahan baku yang digunakan berasal dari CPO, minyak kelapa, minyak kedele, dan biji jarak. Dari sudut efisiensi biofuel yang dihasilkan termasuk efisien. walau ada variasi yang melebar.
Bahan baku jagung termasuk yang paling efisien menghasilkan energi. dalam hal ini untuk satu unit energi yang digunakan menghasilkan 8 unit energi. jika dari berbagai faktor ini sangat mendukung pengembangan industri bioduel, maka produk pertanian akan ada dipersimpangan jalan, mau diproses menjadi bahan makanan (Food) atau bahan bakar Minyak (fuel). Situasi ini sering disebut suatu dilema Food versus fuel pada masa yang akan datang. Sektor pertanian tidak lagi menjadi sektor yang dimarginalkan, tetapi menjadi sektor yang menentukan nasib suatu bangsa.
Situasi ini berdampak positif pada kinerja sektor pertanian. Kini dapat melayani 2 permintaan yaitu pasar tradisional yaitu pakan, sandang dan makanan dan pasar modern yaitu industri biofuel. Bagi sektor pertanian perluasan ini akan memberikan tekanan pada kenaikan harga serta stabilitas produk pertanian. Ini tentu saja akan meninkatkan pendapatan petani. Jangka pendeknya mampu mengurangi surplus produksi produk pertanian di pasar Internasional.
Disisi lain, situasi ini berpotensi memperburuk ketahanan pangan. apalagi bagi negara yang net-importir atau negara yang penduduknya relatif banyak. kenaikan harga pangan berdampaknegatif terhadap penduduk miskin didunia yang jumlahnya 2 miliar jiwa. Indonesia salah satunya dimana masih banyak mengimpor bahan pangan yang dapat diolah menjadi biofuel seperti gula, kedele dan jagung. Jika situasi ini tidak dikelola dengan baik maka akan terjadi perkelahian lebih dari 2 miliar penduduk miskin dunia untuk memperoleh makanan dengan 900 juta mobil dan jutaan mesin/pabrik. pada dasarnya adalah rebutan antara simiskin dangan sikaya yang memiliki mobil dan pabrik.mesin. Di Indonesia juga bisa menjadi rebutan 30 juta penduduk miskin dengan pemilik mobil dan mesin.
Kekahawatiran yang muncul adalah mereka yang lebih kuat, baik ekonomi, sosial, politik dapat memenangkan perebutan tersebut. baik cara logis hingga kasar melalaui rekayasa. Korbannya jelas simiskin yang dibuat semakin kelaparan, karena akses terhadap pangan akan semakin sulit serta harga pangan yang semakin meningkat. Dampak lainnya adalah percepatan degradasi lahan, kecendrungan untuk mempercepat pengembangan industri biofuel. jelas akan meningkatkan produksi pertanian. Ini berarti perluasan lahan pertanian akan semakin tidak dapat dihindarkan. Jika tidak ada upaya dari pemerintah dalam mengaggulangi penebanagan hutan untuk perluasan lahan pertanian dikhawartirkan akan semakain membahayakan kondisi lingkungan Indonesia yang semakin kritis. Banjir, longsor kebakaran hutan, kabut asap silih berganti. Ini jelas indikator kritisnya kondisi lingkungan di Indoensia
Pengembangan industri biofuel merupakn peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki kinerja sektor pertanian termasuk nasib petaninya, serta perekonomian secara nasional. Namun demikian harus direncanakan dengan sistematis dan komperhensip dengan wawasan jauh kedepan. Sehingga tidak menjadi sumber bencana baru bagi rakyat miskin, ketahanan pangan dan degradasi lingkungan. Mumpung ini belum dikembangkan secara jauh, pemerintah seyogyanya menyususn blue print dengan komperhenship dan tidak terburu-buru.

Jemmie H. N
Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan
Prodi Agribisnis
CP 085245985136

ANCAMAN “STAGNASI” PERIKANAN?

ANCAMAN “STAGNASI” PERIKANAN?

Cambridge International Dicrionary Of English menyebutkan Stagnat sebagai sesuatu “not growing or develoving”. Sesungguhnya menyebutkan sektor perikanan sebagai sesuatu yang “not growing or developing” adalah sustu yang Misleading mengingat secara statistik beberapa parameter klasik seprti produksi menunjukkan kinerja positif. Data statistik yang dimiliki penulis menunjukkan bahwa peikanan nasional dari 5,1 juta ton pada tahun 2001 menjadi 6,7 juta ton pada tahun 2007. Demikian juga dengan perdagangan Internasional perikanan mengalami surplus dengan ekspor meningkat 12,20% dibanding tahun 2006. Apakah ini pantas disebut stagnan?
Dari parameter statistik formal dan dengan analisis head to head. Misal dari indikator Investasi, baik itu ijin prinsip maupun nilai investasi menunjukkan tren yang menurun pada periode 2002-2009 (Suhana,2007). Penurunan ini bisa saja dianggap deflasi sektor perikanan karena sektor ini mungkin tidak menarik lagi bagi investasi. stagnansi tidak selalu konotasi buruk memang. Stagnansi produksi justru mungkin menjadi kunci bagi rasionalisasi kapasitas perikanan nasional. Demikian juga dengan “stagnasi” investasi. Penurunan investasi tidak selalu berarti bahwa sektor perikanan tidak menarik lagi. Faktor kebijakan ekonomi makro dan mikro nasional menjadi faktor yang turut mempengaruhi. Misalnya kenaikan BBM yang tidak “berpihak kepada sektor perikanan.
Ketahanan Perikanan. Seperti yang diargumentasikan oleh Charles (2001), ketahanan perikanan tidak hanya dalam ketahanan ekologis, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap gangguan ( kenaikan BBM, cuaca buruk) sehingga dapat menjaga arus mafaat dari sektor perikanan. dan kelautan. Skenario business as usual dalam pengelolaan perikanan tidak dibutuhkan lagi. Dalam konteks ini perlu inisiatif kebijakan yang dapat meningalkan ketahanan perikanan nasional
Pertama. Secara makro jangka panjang dalam kerangka blok revenues audit terhadap kapasitas perikanan nasional perlu dilakukan. Prinsipnya strategi ini bertujuan mengoptimalkan perikanan nasional, baik lokal maupun global. Keluaran yang diharapkan adalah skema pengelolaan perikanan yang efesien sehingga mampu meningkatkan efesiensi penangkapan ikan. Akhirnya dapat meningkatkan profit per pelaku perikanan.
Kedua, implementasi perikanan terpadu. Indikasi kebijakan ini termasuk dalam kelompok kebijakan mikro jangka panjang menengah. Hal ini dilakukan dengan mengurangi beban operasi (Block Cost). Dengan strategi ini maka efesiensi penangkapan ikan lebih mengarah pada effective fishing days dan tidak boros dalam konteks navigating days. Namun demikian, implementasi kebijakan ini diperlukan kajian detial dan mendalam mengenai konsekuensi dan peluang “window-dressing” oleh pelaku perikanan terpadu.
Terakhir, pengurangan beban biaya langsung non-BBM. Ini dipandang mampu meredam dampak kenaikan harga BBM terhadap Industri perikanan, khusunya pada skala kecil. Beban biaya non-BBM dalam konteks ini misalnya beban institusi seperti PNBP dan derivatnya. Strategi ini dapat dilakukan melalui proses mediasi dan konsultasi antara pemerintah dan pelaku industri perikanan.


Alternaif insentif terhadap “perturbations” seperti yang disampaikan diatas dapat dilakukan secara seimbang, arif dan berpihak pada pelaku sektor riel perikanan kelautan. Hal ini penting semata untuk menjamin keberlanjutan sistem perikanan nasional sebagai salah satu sektor startegis perekonomian nasional.



AGRIBISNIS DI ERA DIGITAL DIVICE

AGRIBISNIS DI ERA DIGITAL DIVICE

Sektor pertanian di Indonesia masih dianggap strategis, bukan saja karena sector ini mampu menyediakan lapangan pekerjaan, pendorong munculnya industri baru atau kegiatan ekonomi yang lain. Tetapi juga berperan sebagai sumber penyedia pangan. serta mampu menyumbang devisa nasional.
Dikatakan bahwa sector pertanian mampu menyedaiakan lapangan kerja, terbukti sekitar 49% angkatan kerja beada dikawasan pedesaan dan berkerja disektor pertanian. Disisi lain , sector pertanian juga menunjukkan keterikatan antara sector pertanian dan non-pertanian cukup tinggi. Dengan demikian sector pertanian mampu memunculkan industri-industri baru yang berbahan baku pertanian. Menurut Saragih(2004), sektor pertanian juga terbukti meruapakan sector yang ampuh sebagai dewa penoloang pertumbuhan ekonomi. Pada saat dunia dan Indonesia mengalami krisis tahun 1997-1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi negatif sebesar 13,68%, sector pertanian justru masih mampu bertahan dan bahkan naik sebesar 0,22%.
Peran sector pertanian juga bukan saja berkontribusi baik terhadap produk yang sifatnya fisik(tangible produk), tetapi juga kualitas (intagible produk). Peran sector pertanian juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan Seperti yang ditunjukkan dengan naiknya indeks nilai tukar petani dari 96,6 pada tahun 2000, naik menjadi 110,4 pada tahun 2003. Selain itu juga tingkat kemiskinan dipedesaan turun dari 32,7 juta orang pada tahun 1999 menjadi 25,1 juta orang pada tahun 2002.
Disisi lain, sejalan dengan perkembangan teknologi di era globalisasi ini, maka proses adopsi inovasi dalam pemanfatan teknologi khususnya ICT (Information and Information Technology) , juga semakin cepat. Siapa saja yang paling progresif dalam adopsi-inovasi ICT ini, maka dialah yang memperoleh keuntungan dari aplikasi ICT dibidang pertanian ini. Dari hal tersebut Maka terjadilah gap (senjang) penguasaan informasi atau penguasaan ICT. Gap inilah yang dinamakan ‘Digital Divice’. Digital device merupakan kesenjangan penguasan ICT antara kompoen satu dengan komponen lainnya.
Dalam bidang pertanian khususnya Agribisnis E-Agribussiness muncul bersama dengan pemanfaatan is lazimya disebut e-business atau e-commerce. Dalam e-Agribusiness digital divice juga dirasakan. Disini hanya mereka yang mampu menguasai ICT yang dapat memperoleh keuntungan bisnis dibidang pertanian.
Di negara-negara lain khususnya Cina dan India, pembangunan pertanian dan pedesaan dipercepat dengan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and communication technology (ICT). Jurnal science Tech Enterpreneuer bulan February 2007. melaporkan bahwa significannya peran ICT khususnya penyelesaiaan masalah ‘Digital Divide’ dalam membangun sector pertanian.
Sentuhan ICT atau penyelesaiaan masalah kesenjangan informasi teknologi dan komunikasi (Digital Divice) memang sangat significan pengaruhnya terhadap pembangunan pertanian dan pedesaan dinegara-negara lain. Banyak penelitian menunjukkan bukti bahwa pemanfatan ICT untuk kepentingan ‘digital divice’, teryata mampu menciptakan peluang kerja (creating opportunity),memberdayakan masyarakat (community empowerment), mengembangkan kemampuan (capacity building), menciptakan perlindungan sosial (sosial protection), membina kemitraan global (forging global partnership)
Jadi ‘digital divice’ membahas soal kesenjangan pemanfaatan ICT, asumsi dasarnya adalah siapa yang terlambat memanfaatkan ICT, maka terlambat pula memperoleh informasi baik itu bidang ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dalam artikel yang berjudul;Applying Communication Theory to Digital Divice’ research Mason dan Hecker (2003) menjelaskan khususnya pembuat keputusan , yang tidak menguasai ICT akan kalah cepat dan kalah akurat bila dibandingkan dengan pembuat keputusan yang dibuat berdasarkan Informasi yang dikumpulkan menggunakan ICT. Oleh sebab itu, upaya mengurangi gap (kesenjangan) penguasaan ICT ini menjadi amat penting.
Bayak pihak telah menyadari pentingnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) begitupula dampak ICT dalam bidang pertanian. Pihak pemerintah juga sudah merespon dengan cukup bagus. Hal ini dapat dilihat dalam program RENSTRA (rencana strategsis) 2005-2009. Departemen pertanian dalam kebijakan operasional (Anonim, 2005) telah disusun beberapa program yang garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu : pengemnangan dan penyelenggaraan Sistem Informasi dan Statsitik Pertanian, peningkatan Pemanfatan dan Penyebaran Informasi,
peningkatan kualitas Simberdaya manusia dalam bidang statistik dan Sistem Informasi, serta pengembangan dan Penataan kelembagaan sistem Informasi
Keempat kebijakan tersebut menyangkut pemanfatan ICT untuk pembangunan pertanian, meningkatkan kualitas komunikasi diberbagai bidang subsektor pertanian melalui penguasaan dan penerapan telnologi informasi dan Komunikasi (ICT) dalam meperkuat daya saing sector pertanian dalam menghadapi tantangan global.
Agribisnis lazimnya didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan mulai dari proses produksi panen, pasca panen pemasaran dan kegiatannya lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pertanian (Soekartawi, 2003). Karena ICT juga merambah pada kegiaatn pertanian maka munculah istilah e-Agriculture atau e-Agribusiness, yaitu pemanfatan ICT dibidang pertanian atau bisnis dibidang pertanian. e-Agribusiness adalah e-commerce yaitu e (elektronika) dan commerce (perdagangan), maka pengertiannya sebagai kegiatan perdagangan melalui jasa elektronika. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, maka penggunaan jasa elektronika dalam perdagangan juga berkembang pesat. Antara lain, audio dan video ke teknologi komputer berkembang menjadi teknologi web atau internet.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, aktivitas bisnis dalam bidang agribisnis atau e-Agribusiness antara lain Biseness to Business (B-to-B) kegiatan antara pebisnis satu dengan lainnya, Business to Consumers (B-to-C) kegiatan antara pebisnis dengan konsumen, Business to Government (B-to-G) kegiatan antara pebisnis dengan pemerintah, Intra-Organizational, konsumer dapat berkomunikasi antara mereka sendiri. Keuntungan yang dapat diperoleh antara lain mampu mengikuti pergerakan yang cepat dalam pasar global, meningkatkan jalanya organisasi yang efektif dan efesien., mengetahui lebih cepat dimana potensi produsen dan potensi konsumen, meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan, menghemat waktu, meningkatkan keuntungan dari lembaga perantara (efisiensi jalur distribusi)
Walaupun demikian , masih terdapat banyak kendala dalam pengunaan ICT dalam bisnis dibidang pertanian antara lain Sisi infrastruktur ICT yaitu : Konektivitas, tersedianya aliran listrik, tersedianya perangkat keras (hardware seperti komputer dll), Sisi Content : tersedianya software yang aplikable, sulitnya mengukur atau menginformasikan berbagai produk pertanian (sifat barangnya, sifat segar,dll), Sisi SDMnya : tidak banyak orang yang dapat memanfatakan atau mengoperasikan perangkat ICT
Pemanfatan ICT dalam kegiatan pertanian, memang relatif tertinggal bila dibandingkan dengan kegiatan non-pertanian. karena ICT sudah berkembang begitu cepat. Maka para pemangku kepentingan (Stakeholders) juga sudah mulai memanfaatkan keunggulan ICT ini. Pemanfaatan ICT dalam pertanian masih terbatas pada intenfikasi tukar menukar informasi untuk bertransaksi perdagangan produk pertanian. Bagi aktor agribisnis yang progresif, mereka memanfatkan keunggulan ICT ini, namun perbedaan aktor agribisnis yang menguasai ICT dan yang tidak menguasi gap (perbedannya terlalu lebar). Perbedaan inilah yang disebut ‘digital divice’. Berbagai perangkat ICT juga semakin dekat keprodusen dan konsumen, salah satunya adalah membangun berbagai jaringan (Network), telecenter. oleh sebab itu diharapkan adanya sinergisitas antara keduanya untuk memajukan pertanian Indonesia. Bravo Pertanian!!!!!.

Jemmie Harries Nainggolan / Jimi
Mahasiswa Fakultas pertanian Untan
Prodi Agribisnis
Cp 085245985136